RAIN
RAIN

RAIN » Kegiatan » Survey Raptor di Taman Nasional Gunung Ceremai

   


Survey Raptor di Taman Nasional Gunung Ceremai

12.5.10Kegiatan | Cetak

A.    Lokasi
Gunung Ciremai merupakan gunung berapi aktif (strato) tertinggi di Jawa Barat dengan puncak tertinggi yaitu 3.078 mdpl. Kawasan ini memiliki luas 15.518,23 hektar dan secara geografis berada pada koordinat 108028’0” BT – 108021’35” BT dan 6050’25” LS – 6058’26” LS (Sumarna 2008). Kawasan TN Gunung Ciremai (TNGC) memiliki tiga tipe ekosistem hutan yaitu tipe hutan dataran rendah (2 – 1.000 mdpl), tipe hutan hujan pegunungan (1.000 – 2.400 mdpl), dan tipe hutan pegunungan sub-alpin (>2.400 mdpl) (PHKA 2004).
Kegiatan survey raptor ini di lakukan dari tanggal 22 Februari sampai 22 Maret 2010, yaitu bersamaan dengan kegiatan PKL yang kami lakukan bersama kawan-kawan dari Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB. Disela-sela kegiatan PKL yang dilakukan kami menyempatkan diri untuk melakukan suatu kegiatan survey di beberapa lokasi yang menjadi tempat kegiatan PKL kami, tak hanya itu saja terdapat pula beberapa lokasi menjadi lokasi pengamatan karena secara tidak sengaja pada saat itu terdapat beberapa raptor terlihat. Jadwal kegiatan PKL ini ternyata bertepatan dengan  jadwal arus balik bagi para pengembara yaitu raptor migran yang melakukan perjalanan kembali menuju belahan bumi bagian utara dari selatan, sehingga kami mencoba untuk melakukan pemantauan apakah jalur migrasi para raptor tersebut melintas di kawsana TN Gunung Ciremai (TNGC).
Lokasi yang dijadikan lokasi survey yaitu:

  • Desa Kadu Gede
  • Obyek wisata Cigugur
  • Buper Singkup (Paniis)
  • Padabeunghar
  • Bukit Batu Karang (Sumur 7, Desa Pasawahan)
  • Telaga Remis
  • Blok Ciayakan (Mandirancan)
  • Lembah Cilengkrang
  • Palutungan
  • Blok Kaliandra (Jalur pendakian      Palutungan)
  • Situ Sangiang
  • Bantar Agung dan Blok Punduk Guha
  • Perumahan BTN Kasturi, Kuningan

B.    Hasil Survey
Dari keseluruhan lokasi yang di kunjungi kami berhasil mengamati dan mengidentifikasi 9 jenis raptor, 3 diantaranya merupakan jenis raptor migran yaitu sikep Madu Asia Pernis ptilorhynchus, Elang-alap Cina Accipiter soloensis,  dan Elang TiramPandion haliaetus. Untuk jenis raptor penetap (resident) yaitu : Elang Jawa Spizaetus bartelsi, Elang Brontok Spizaetus cirrhatus, Elang Hitam Ictinaetus malayensis, Elang Ular Bido Spilornis cheela, Alap-alap Kawah Falco peregrinus. Terdapat pula jenis raptor diurnal yaitu Beluk Ketupa Ketupa ketupu yang hanya ditemukan di lokasi hutan Pinus Padabeunghar sebanyak satu 1 individu dan situ sangiangpun hanya menemukan satu individu.

Sikep Madu Asia yang kita amati ditemukan pada Desa Kadu Gede, Buper Singkup, Bukit Batu Karang, Padabeunghar, Telaga Remis dan Blok Ciayakan (Mandirancan). Di Desa Desa Kadu Gede, Buper Singkup,dan Telaga Remis perjumpaan dengan Sikep Madu Asia sangat jarang, di ketiga lokasi tersebut kami hanya menjumpai satu ekor saja. Di Bukit Batu Karang dan Padabeunghar perjumpaan dengan Sikep Madu Asia cukup banyak, untuk di lokasi Bukit Batu Karang kami menjumpai sekitar 40 individu Sikep Madu Asia yang melintas di lokasi tersebut, sedangkan di lokasi Padabeughar kami hanya menjumpai 5 ekor saja. pada lokasi Blok Ciayakan (Mandirancan) kami hanya menemukan satu individu saja. Selain teramati di dalam kawasan TNGC, Sikep Madu Asia yang bermigrasi (sebanyak 21 individu)  juga teramati melintas di Perumahan BTN Kasturi perdana Kecamatan Kramatmulya, yang terletak kira-kira 12 km di arah Tenggara kawasan TNGC.

Pada jenis Elang-alap Cina  ditemukan hanya di dua lokasi yaitu Bukit batu karang dan Padabeunghar. Pada lokasi Bukit Batu Karang dan Padabeunghar kami menemukan jumlah individu yang sama yaitu 15 individu Elang-alap Cina . Dari keseluruhan individu Sikep Madu Asia dan Elang-alap Cina yang diamati arah pergerakannya dari arah Tenggara menuju arah Barat Laut dengan terbang secara bersama-sama.

Jenis raptor migrant lain yang kami temukan yaitu Elang Tiram Pandion haliaetus(migrasi lokal) jenis raptor ini hanya ditemukan di lokasi situ sangiang. Pada lokasi ini terdapat danau besar yang berada di dalam kawasan tersebut dengan jumlah ikan yang masih cukup banyak, sehingga lokasi ini merupakan lokasi yang cocok bagi elang tiram untuk berburu dan menetap sebelum elang tiram akan melanjutkan migrasinya ke lokasi semula.

Elang jawa Spizaetus bartelsi kami hanya menemukan di lokasi Lembah Cilengkrang sebanyak dua individu (satu juvenil dan satu adult) dan Situ Sangiang sebanyak dua individu. Untuk di Situ Sangiang Elang Jawa yang kami temukan sudah dewasa (adult), saat mengamati kedua individu tersebut sedang melakukan terbang bersama dan terkadang berkelahi seperti sedang melakukan perilaku kawin, karena pada waktu pengamatan merupakan musim berbiak bagi elang jawa.

Elang brontok Spizaetus cirrhatus kami menemukan di Situ Sangiang dan di Punduk Guha. Di situ Sangiang kami mengamati tiga ekor elang brontok yang berbeda fase (1 ekor fase terang dan 2 ekor fase gelap). Ketiga elang tersebut saat diamati ternyata perilakunya menunjuka perlaku kawin, karena satu ekor brontok fase terang yang kami perkirakan betina sedang dikejar-kejar oleh dua ekor brontok fase gelap yang diduga individu jantan. Pada lokasi Punduk Guha kami hanya menemukan sepasang elang brontok yang sedang terbang bersama.

Elang hitam Ictinaetus malayensis hanya ditemukan di tiga lokasi yaitu cigugur sebanyak dua individu, Blok kaliandra (jalur pendakian palutungan) kami menemukan sebanyak empat individu, dan di Situ Sangiang hanya menemukan satu individu elang hitam.

Elang Ular Bido Spilornis cheela kami temukan di tujuh lokasi diantaranya yaitu: di Bukit Batu Karang kami menemukan sepasang (2individu), di lokais Padabeunghar kami menemukan hanya satu individu, di Telaga Remis elang ular yang kami amatai terdapat tiga individu , untuk di mandirancan kami hanya menemukan satu individu, di lokasi Situ Sangiang  kami mengamati sebanyak tiga individu elang ular, sedangkan di lokasi Bantar agung dan Blok punduk guha karena merupakan masih dalam satu kawasan kami berhasil mengamati sekitar lima individu.

Alap-alap kawah (Falco peregrinus), kami menemukan hanya di lokasi Situ Sangiang sebanyak dua individu. Saat kami mengamati alap-alap tersebut selalu terbang bersama pasangannya.

>>Download versi Pdf

oleh: Muhamad C. Kurniawan dan Aisyah Handayani

Daftar Putaka

  • [PHKA] Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2004. 50 Taman Nasional.
  • Sumarna Y. 2008. Membangun Kemitraan dalam Pengelolaan Ekosistem di Kawasan Gunung Ciremai. Di dalam : Suara Berita Liputan Rimbawan Jawa Barat Surili; VOL. 44/No. 1/TH.2008. Bandung : Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Hlm 30 – 33.