Perjumpaan Raptor di Taman Nasional Lore Lindu
Raptor disebut juga burung pemangsa, yaitu berbagai jenis burung yang cara mencari makanannya dengan berburu satwa lain. Ciri-ciri raptor yang lainnya seperti memiliki kaki dan kuku yang kuat untuk mencengeram mangsanya, paruh yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya, dan mempunyai penglihatan yang bagus untuk melihat mangsanya dari jarak yang jauh. Selain itu, raptor yang hidup di malam hari (nokturnal) seperti burung hantu memiliki alat pendengaran yang baik.
Keberadaan raptor di alam sangat penting sebagai indikator perubahan lingkungan. Dimana ada raptor, dapat dikatakan bahwa kondisi lingkungan tersebut masih baik. Dalam jaring-jaring makanan, raptor merupakan top-predator yang dapat mengendalikan populasi satwa mangsanya, seperti tikus dan ular. Oleh sebab itu, untuk melindungi raptor dari ancaman kepunahan, pemerintah mengeluarkan undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dan peraturan pemerintah no 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.
Taman nasional lore lindu (TNLL) merupakan habitat bagi berbagi jenis raptor. Di kawasan ini terdapat sekitar 26 jenis raptor yang terdiri 18 jenis dari Famili Accipitridae, 3 jenis dari Famili Falconidae, 2 jenis dari famili Tytonidae, dan 3 jenis dari Famili Strigidae. Dari famili Accipitridae, terdapat 5 jenis yang endemik yaitu Elang Ular Sulawesi (Spilornis rufipectus), Elang-alap Kepala Kelabu (Accipiter griseiceps), Elang-alap Ekor Totol (Accipiter trinotatus), Elang-alap Kecil (Accipiter nanus), Elang-alap Dada Merah (Accipiter rhodogaster), dan Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus). Famili falconidae yang hidup di TNLL merupakan burung penetap yang berbiak sepanjang tahun.
Sedangkan untuk raptor nokturnal yang ditemukan di TNLL merupakan jenis endemik, yaitu Serak Sulawesi (Tyto rosenbergii), Serak Minahasa (Tyto inexspectata), Punggok Oker (Ninox ochracea), Punggok Tutul (Ninox punctulata), dan Celepuk Sulawesi (Otus manadensis).
Raptor di TNLL dapat ditemukan di berbagai tipe habitat, mulai dari kawasan hutan sampai kebun coklat, areal persawahan masyarakat, dan danau. Hutan merupakan habitat yang sesuai dengan kehidupan raptor. Hutan yang menyediakan pohon-pohon besar digunakan raptor untuk tempat berkembang biak dan tempat istirahat. Hutan juga menyediakan berbagai tipe makanan bagi raptor seperti ular, tikus, burung kecil, dan tupai. Terkadang, raptor juga ditemukan di habitat yang berdekatan dengan masyarakat, seperti sawah dan kebun. Mereka menggunakan habitat ini sebagai tempat mencari makan/hunting area.
Salah satu tempat pengamatan raptor berada di desa Matauwe, seksi konservasi wilayah 1 Kulawi. Matauwe berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional. Daerah ini terdiri dari persawahan, kebun coklat, dan tanah lapang. Hutan TNLL yang berada di sekitar desa ini masih sangat bagus. Kondisi tanahnya berlereng yang memungkinkan sebagai tempat meluncurnya elang untuk terbang. Beberapa jenis raptor diurnal dan nokturnal dapat dengan mudah ditemukan di wilayah ini seperti eEang Perut Karat (Hieraatus kienerii) dan Celepuk Sulawesi (Otus manadensis). Di desa Matauwe ini juga dapat ditemukan sarang burung Elang-alap Kepala-Kelabu (Accipiter griseiceps). Yang menariknya lagi, di desa ini pernah ditemukan Elang Kelelawar (Macheiramphus alcinus), (Sayogo, 2009). Elang kelelawar termasuk jenis yang langka di Sulawesi (Coates&Bishop, 1997). Elang ini biasa mencari makan di mulut gua untuk menangkap kelelawar.
Ancaman terbesar kelangsungan hidup raptor di TNLL yaitu adanya kerusakan hutan. Konversi hutan menjadi kebun, lahan pertanian, pembuatan jalan, dan pemukiman berperan besar terhadap hilangnya habitat bagi raptor. Perubahan kondisi habitat tersebut berpengaruh terhadap perilaku dan hilangnya sebagian jenis raptor. Selain itu, perburuan untuk perdagangan merupakan ancaman yang akan menurunkan populasi raptor di alam.
Sumber:
Coates, B. J. and Bishop, K. D. 1997. Panduan Lapang : Burung-Burung di Kawasan Wallacea. Dove Publication. Ardeley.
Sayogo, P. A. 2009. Keanekaragaman Jenis Burung Pada Beberapa Tipe Habitat di Taman Nasional Lore Lindu Propinsi Sulawesi Tengah. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fahutan IPB. Bogor. Tidak dipublikasikan.
Teks dan Gambar ©Andhy P. Sayogo
Anggota Raptor Indonesia Tahun 2010
Jenis-jenis raptor di Taman Nasional Lore Lindu
Sumber: Fachry Nur Mallo dan Buttu Piton Ma’dika, 1999 : A checklist of the birds of Lore Lindu National Park, Central Sulawesi, Indonesia
| Famili | NO | Nama Indonesia | Nama Ilmiah |
| Accipitridae | 1 | Baza jerdon | Aviceda jerdoni |
| 2 | Sikep-madu sulawesi | Pernis celebensis | |
| 3 | Elang kelelawar | Macheiramphus alcinus | |
| 4 | Elang tikus | Elanus caeruleus | |
| 5 | Elang paria | Milvus migrans | |
| 6 | Elang bondol | Haliastur indus | |
| 7 | Elang-laut perut-putih | Haliaeetus leucogaster | |
| 8 | Elang-ikan kecil | Icthyophaga humilis | |
| 9 | Elang-ular sulawesi | Spilornis rufipectus | |
| 10 | Elang-rawa tutul | Circus assimilis | |
| 11 | Elang-alap kepala-kelabu | Accipiter griseiceps | |
| 12 | Elang-alap ekor-tutul | Accipiter trinotatus | |
| 13 | Elang-alap kecil | Accipiter nanus | |
| 14 | Elang-alap dada merah | Accipiter rhodogaster | |
| 15 | Elang sayap-coklat | Butastus liventer | |
| 16 | Elang hitam | Ictinaetus malayensis | |
| 17 | Elang perut-karat | Hieraatus kienerii | |
| 18 | Elang sulawesi | Spizaetus lanceolatus | |
| Falconidae | 19 | Alap-alap sapi | Falco moluccensis |
| 20 | Alap-alap macan | Falco severus | |
| 21 | Alap-alap kawah | Falco peregrinus | |
| Tytonidae | 22 | Serak sulawesi | Tyto rosenbergii |
| 23 | Serak minahasa | Tyto inexpectata | |
| Strigidae | 24 | Celepuk sulawesi | Otus manadensis |
| 25 | Punggok oker | Ninox ochrocea | |
| 26 | Punggok tutul | Ninox puntulata |
Keterangan: tulisan berwarna biru menandakan jenis endemik Sulawesi





